Rabu, 18 Juni 2014

Ia Menyuruhku bersenang-senang!



Aku mau resign. Mau pake banget. Pokoknya ga ada yang bisa larang-larang aku. Kamu atau pun orangtua aku. Aku udah capek. Capeeeek. Pengen ngurusin anak aja di rumah, leha-leha. Kamu aja yang suami yang getol cari duit yaa *bicara ngos-ngosan tanpa titik koma sambil elus dada*.

Resign aja siapa yang larang. Aku juga ga nyuruh kamu kerja dari awal pertama. Trus hutang di kantor kamu siapa yang bayar? Kita jual rumah? Jual tanah? Trus nanti kita jadi ga punya apa-apa? Itu maunya? Mau di rumah aja gimana lah wong rumahnya ga ada…

Ya pokoknya kamu cari jalanlaah. Kamu kan suaminya. Bikinin aku usaha kek, apa kek *ngotot*

Aku dari awal udah bilang, kamu tuh bukan tipe orang yang mau nurut disuruh-suruh orang, bosenan, moody-an. Dari awal sebelum nikah juga aku udah ingetin. Yakin ini yang kamu mau? Kerja kantoran, mana Sabtu masuk. Kamu bilang yakin. Ya jalanin. Masa berhenti di tengah jalan. Konsisten sama omongan.

Ya tapi itu kan dulu sebelum ada Keyla. Aku belum tau dan merasakan kalo ada yang lebih berharga dari pekerjaan, uang, dan segala macam itu! Masa kamu tega anak gedenya sama pembantu! *mulai deh bawa-bawa anak*

Ya udah besok kamu print aja surat resignnya. Dari dulu juga kamu diingetin selalu begitu.

Trus penalti aku resign gimana? Hutang koperasi kantor juga gimana? Kalo aku dipanggil diklat gimana? Aku ga mau lima tahun lagi ngikat diri disini! *mulai panik*

Lohh kamu kok jadi bolak balik gini sih? Dikasih ijin salah, ga dikasih juga salah.

Kamu tega banget sihhh ga mikirin aku! *mulai nangis*sok dramatis*

Istriku sayang, sekarang dengerin aku ya. Kamu ga usah ribut-ribut mau resign lagi mulai sekarang. Jalani apa yang didepan mata dengan baik. Pekerjaan kamu, bisnis kamu. Jalani keduanya sambil kita bayar kewajiban kita ke kantor kamu full. Ikatan dinas kamu kan tinggal setengah tahun lagi. Hutang satu setengah tahun lagi. Kalo kamu dipanggil diklat, ya datang aja. Nambah ikatan dinas lima tahun, dipotong masa bayar hutang satu setengah tahun, masih nyisa tiga setengah tahun untuk kamu BERSENANG-SENANG. 

Kita  dari awal kerja udah habis untuk kuliah S2, nikah, punya anak, rumah, semuanya. Kita habis-habisan di awal. Aku nurut cara kamu. Tidak mengapa. Sekarang, kamu nurut cara aku. Kamu ga aku suruh kerja buat bayar tagihan kita. Enggak. Cuma buat penuhin kewajiban kamu ke kantor kamu, kantor yang udah kasih kamu segala sesuatu yang kamu punya sekarang (atas ijin Allah). Itu aja. Seterusnya aku suruh kamu buat SENANG-SENANG. Pergi liburan sana. Ajakin orangtua kamu ke rumah Allah. Beli barang-barang bagus dan branded yang selama ini aku tahu kamu tahan-tahan buat keluarin duitnya padahal kalo kamu mau, kamu mampu. Beli gadget mahal yang kamu mau tanpa perlu merasa bersalah. Aku ga minta sepeserpun dari penghasilan kamu kerja, enggak pernah juga kan? Aku suruh kamu buat sedikit have fun dengan uang yang kamu punya. Nanti, setelah semua kewajiban kamu selesai. Aku larang kamu untuk pinjam-pinjam di kantor lagi, dari dulu udah aku larang, biar kalo kamu mau berhenti ya tinggal berhenti aja ga usah pusing-pusing gini. Hayo, jangan bilang kamu lupa ya aku pernah ngomong gitu.

Sekarang udah, do as I said. I am your husband. Let me take control of your life now. Aku engga mau kamu salah jalan (lagi). Oke? Bersenang-senanglah setelah masa susah. You worth it. Your parents worth it. Kalo anak kita ya biar aku yang mikirinlah. Aku kan bapaknya. Kewajiban aku menghidupi Keyla sama kamu. Kamu tenang aja. Kalau kamu rasa kamu sudah cukup bersenang-senangnya, lalu kamu mau berhenti kapan saja, silahkan. Tapi aku  minta kamu cari waktu yang tepat untuk itu dan aku tau sekarang bukan waktunya. Ngerti? Yeee dia malah tidur!

………………………………………………………………………………………………………
*pura-pura tidur*habisnya ga tau mau ngomong apa*kalah telak*saatnya nurutin kata suami*lagian disuruhnya senang-senang ini*hahaha*love you full dah bro*eaa

Who Is More Superior Than Another? None


Lima tahun bersama. Setahun berteman, setahun menunda menikah karena ikatan dinas kantor, tiga tahun pernikahan.

Selama masa itu, tak terhitung berapa kali saya mengambil keputusan sendiri, khususnya di bidang keuangan.

Ia selalu dan selalu mengalah. Ia menyarankan, memang. Namun ego saya sebagai wanita karir mandiri yang berpenghasilan lumayan tinggi (bukan bermaksud melagak, baca sajalah dulu semuanya), membuat saya berpikir secara liberalis cenderung materialistis (eh).

Ya, liberalis. Dimana kala itu saya gampang terhasut dengan kata-kata klise:

Uang suamimu uangmu, uangmu ya uangmu.

Meskipun istri berpenghasilan sendiri, suami tak berhak sepeserpun atas penghasilannya dan tetap wajib menafkahinya.

Istri berhak memberi sebagian penghasilan pada orangtuanya tanpa memerlukan ijin suami, namun suami tak berhak memberi orangtuanya sebelum mencukupi kebutuhan istri dan anaknya…

Itulah kesalahan saya.

Saya mengambil keputusan sendiri tanpa permisi. Ya, saya bicarakan pada suami, namun jika suami bilang tidak, saya tetap meneruskan keputusan saya dengan melancarkan argumen bertubi-tubi dan berpikir masa bodohlah, toh duit kan duit saya sendiri.

Salahkah saya?

Iya.

Totally.

Mudaratkah jadinya?

Iya.

Kecuali pada bagian menyisihkan penghasilan untuk orangtua.

Jika dihitung kembali, saya telah berkontribusi sebanyak enam puluh lima juta rupiah kerugian dalam keluarga kami.

BRAVO!

Itu jumlah yang tidak sedikit.

Saya beberkan satu per satu kesalahan saya, yang menurut saya (waktu itu) sama sekali tidak ada salahnya:

Tidak menghargai pemberian suami

Suami dan keluarganya sedianya telah memberikan sebuah rumah untuk kami tinggali. Ego saya mengatakan tidak. Rumah tualah, lokasinya di kampunglah, tetangga reselah (ya, mau magar rumah sendiri saja tidak bisa, padahal tidak menghalangi jalan atau apa dan tetangga suka menjemur pakaian di halaman rumahnya), tidak enak dengan pandangan saudara-saudara suamilah, menjadi tameng saya untuk tidak menempati rumah yang telah mereka sediakan tersebut.

Saya lebih suka menempati rumah sendiri, jauh lebih bangga menempati rumah hasil jerih payah kami berdua, itulah yang saya katakan pada suami. Padahal suami meminta untuk bersabar, tinggallah dulu saja di rumah pemberian tersebut seraya menabung untuk rumah sekaligus mencicil mobil yang saya sukai.

Seandainya saya mau menurutinya, mungkin saat ini kami bisa membeli rumah cash tanpa perlu dipusingkan cicilan KPR setiap bulannya….

Memilih investasi yang (ternyata) bodong

Suami sudah melarang. Saya bersikeras melawan. Tak dinyana lagi, semua ketakutan suami pun terbukti.

Bisnis-bisnisan

Suami ingin membuka warung roti bakar dan mie (konsepnya seperti roti bakar Eddie), saya mau bisnis pakaian.

Saya tidak mendengarkan saran suami dan membeli franchisee baju yang ditawarkan satu tokoh bisnis yang (lumayan) ternama. Tak usahlah sebut siapa. Kesalahan saya yaitu tidak mencari tahu dengan seksama tentang apa yang akan saya beli karena terlalu percaya pada tokoh tersebut.

Dan ternyata ya, saya rugi. Kualitas pakaian tidak sesuai dengan harga yang disodorkan. 

Dan voila. Menguaplah kembali pundi-pundi kami dengan mudahnya…. Semudah membalikkan telapak tangan.

Itulah tiga diantara banyak hal yang menurut saya bisa dibagikan pada kita semua dengan harapan tidak ada lagi yang merasa lebih superior (baik lelaki maupun wanitanya), tidak ada lagi yang merasa lebih berkontribusi (baik lelaki maupun wanitanya), tidak ada lagi kepentingan aku atau kamu, melainkan kita. Kepentingan kita. Klise, memang. Namun bila dijalankan sesuai koridornya, niscaya lebih gampang.

Salam sayang untuk keluarga anda semua.

“Merasa superior karena jabatan, pendidikan, karir, bisnis, dan hal-hal semacam itu adalah percuma. Apalagi jika anda seorang wanita. Ukuran superioritas wanita sejatinya adalah dalam menghebatkan pasangannya. Sekali lagi, menghebatkan pasangannya, dan bergandengan tangan mencapai tujuan hidup bersama. Dunia dan akhirat.”

On Top. On Bottom


2009-2010 : On top
Muda. Berbakat. Penuh minat. Atraktif. Imajinatif. Beranjak dari seorang fresh graduate ke tingkat beginner expert. Mulai tahu jati diri, value diri, dan apa yang diinginkan sepenuhnya. Seluruh dunia seolah berpihak padanya.

2011: Having had everything she wanted
Pasangan. Sandang. Papan. Pangan. Tabungan. Keluarga. Sahabat. Sebut saja semua. Ada.

2012: Started destructing
Mulai paceklik. Salah atur strategi ‘perang’. Tidak adanya plan B untuk membackup plan A yang gagal total. Hutang dimana-mana. Instansi maupun perorangan….

2013: On Bottom. Lost almost everything
Krisis kepercayaan. Baik terhadap diri dan orang lain. Krisis finansial. Dijauhkan dari peradaban, dari sahabat, dikucilkan. Merasa semua beban ada di pundak sendiri. Satu per satu dijual untuk menutup krisis (perhiasan, kendaraan), kecuali : rumah (masih Alhamdulillah).

2014: Begin everything once again
Semuanya mulai berangsur membaik.  Pasangan menyadarkan. Kantor lebih ramah. Teman-teman menguatkan. Dimulai dari nol untuk kembali membangun kesuksesan dan kepercayaan yang sempat hilang.

“Pasang surut kehidupan. Dari seorang superstar bisa saja jadi orang buangan. Dari dipuja bisa saja dihujat habis-habisan. Dari memiliki segalanya, bisa saja kehilangan segalanya. Pola ini akan kembali terjadi. On top. On bottom. Anda siap atau tidak, percayalah, datangnya bertubi-tubi. Bersiap untuk kesuksesan bertubi-tubi. Bersiap pulalah untuk kegagalan yang bertubi-tubi. Belajarlah dari kesalahan strategi yang lalu agar tak terulang kembali di masa depan. Paling penting, hargai semua yang anda miliki. Materi atau bukan. Terutama yang bukan….”

Merajuk


Bayangkan jika anda memiliki hari libur selama empat hari, lalu mengajak suami (dan anak sudah pasti pasrah-lah dibawa kemana aja hehe) entah ke Jogja atau Bandung.  Dan semuanya gagal porak poranda (gapopo) karena suami tidak bisa cuti. Oh, oke. Saya sudah bukan lagi tipe perempuan yang suka ribut-ribut memaksakan kehendak. Ehem. Saya pun berencana ke kampung halaman saya, Padang. Namun itupun tidak jadi karena Ibu saya akan menyambangi Jakarta di minggu yang sama. Jadilah saya menelan ludah dua kali. Baiklah, sepertinya kita akan berputar-putar saja di dalam kota selama liburan empat hari ini.

Tapi punya tapi. Suami berangkat kerja di hari Senin dan mengatakan akan pergi menyusul ayah ibunya ke Bogor dengan motor, selepas pulang kerja. Ow ow. 

Ayah ibunya sedang membangun rumah baru disana. Mereka mengajak suami menginap tak hanya satu dua kali, tapi seringkali. Saya mengerti jika setiap malam Minggu, dua minggu sekali, digunakan suami menemani mereka. Ya, saya pun juga selalu ikut biasanya, tapi hari itu saya tidak sedang ingin pergi. Saya pikir, liburan ini bisa jadi milik kami….

Saya pun kecewa gundah gulana (haha).

Oke, baik. Sebagai istri yang (mencoba untuk jadi) baik, saya pun hanya menjawab , “Oh”. Tapi kalimat spontan yang ‘mengudara’ sejurus kemudian, “Aku sama anak kita ke Padang ya.”

Tarraa...

Sontak membuat suami kaget dan berkata, “Kok ngomong gitu?.”

Saya pun jelas-jelas menunjukkan ekspresi bersungut-sungut.

“Aku ga boleh ke Bogor? Kenapa sih emang?”

Masih saja tidak peka.

Akhirnya saya pun mengantar suami pergi kerja dengan masih jelas menampakkan kekecewaan di wajah saya.

Suasana hati yang masih kusut membuat saya langsung mengirim BBM ke suami.

Coba kita berfikir terbalik. Coba kalau aku pergi ninggalin kamu keluar kota sama orangtua aku ke villa kami. Aku tinggalin kamu sama anak kita di rumah. Berdua saja. Even  cuma satu malam. Kira-kira bagaimana ya perasaan kamu?

(Saya dan suami memang tinggal sekota dengan orangtua suami, sedangkan orangtua saya di luar kota. Jarak rumah kami hanya kira-kira 15 menit dari rumah orangtua suami. Saudara saya berdomisili cukup jauh dari kami. Jadi kondisinya, saya benar-benar merasa kesepian jika harus ditinggal menginap).

Pesan terkirim.

Saya menghembuskan nafas lega. Uneg-uneg terungkap sudah.

Dibaca.

Tidak dibalas.

Kasihaan deh yaaa…

Baru ada balasan pukul 17.30, tepat pada jam pulangnya suami.

Aku ga jadi ke Bogor ya. Besok kita pergi main bertiga J

Yap, sesimpel itu. Tidak ada kata maaf, tidak ada kata I love you. Tapi membuat saya menangis haru. Padahal saya sudah memesan makanan siap saji untuk disantap malam itu karena saya sedang tidak ada energi untuk memasak. Jika memang suami ingin menemani orangtuanya, ya sudahlah. Yang penting saya sudah mengutarakan perasaan saya dengan jelas, agar suami mengerti.

Bukan, bukan saya memintanya memilih antara saya dan orangtuanya. Saya pun juga membutuhkan suami saya di saat liburan, kan? Kami sama-sama bekerja. Jarang sekali kami memiliki quality time hanya bertiga saja.

Jadi daripada marah-marah tidak tentu arah, lebih baik merajuk. Bisa bayangkan jika saya marah-marah tak jelas, malah rugi dua kali. Sudah batal liburan, pula membuat suami kesal. Merajuklah yang berilmu. Tetap sesuaikan pilihan katamu. Tetap hargai posisi suami sebagai imam-mu. Niscaya suami yang baik akan mengerti. Bukan, ini bukan tentang pilih aku atau mereka. Tetapi tentang perasaan…. (hahaha)

Tetap semangat and keep on loving 

Selasa, 10 Juni 2014

Saya Dalam Berpendapat


Gagu.
Iya, gagu.
Saya butuh waktu lama untuk menyuarakan pendapat saya di suatu majelis.

Tapi suruhlah saya menuliskan suara saya.
Anda minta sekalimat.
Saya beri dua bab.

Begitupun dalam euforia pemilu presiden kali ini yang ramai sekali diperbincangkan. Saya paling beradu argumen dengan mantan kekasih (baca: suami), ayah, dan ibu saya. Selebihnya saya memilih menuliskannya dan hanya diam saja bila di depan saya nyata-nyata ada yang berdebat.

Dalam memutuskan sesuatu, saya cenderung mendengarkan dan mengikuti pola pikir ORANG YANG SAYA KENAL BAIK.

Bukan berarti saya tidak punya pendirian, nope. As I said tadi kan, cenderung, tidak selalu :)
Sebutlah para senior di kampus, para aktifis (istilah saya gaulis sih, saya masih bukan merasa aktifis meskipun mendapat anugerah bintang aktifis kampus sewaktu diwisuda dulu. Saya hanya bergaul dengan berbagai orang, tanpa pandang bulu. Haha), guru-guru besar, pemikir sekaligus praktisi handal (ga pake setengah-setengah ya, pemikir saja, atau praktisi saja, emang telor setengah mateng? Hahah), pendek kata, The Great One. Orang yang saya (dan banyak orang lain) pikir hebat. Merekalah yang saya dengarkan argumentasinya. Saya dengarkan, ya, bukan berarti saya lalu menelan bulat-bulat omongan mereka. Saya rekam di otak saya, saya buat suatu perbandingan dengan opposite mereka, saya tulis positif-negatifnya, saya bawa ke diri saya, dan ya... I still stand on their thoughts.

Kalau kata kawan saya si Helvira Hasan, ini masalah selera. Saya dan dia sama-sama penulis. Andal di tulisan, tapi di kelas kami selalu mengambil tempat duduk paling belakang, dan tolak-tolakan bila disuruh berdiskusi. Hihihi.

Ya, selera. Saya memilih untuk menyetujui pendapat mereka yang saya kenal. Saya memilih untuk tidak menerima hasutan pemikir-pemikir, yang bahkan, saya saja baru tahu namanya sepintas lalu. Saya menolak terprovokasi data tak akurat. Saya mengatakan tidak pada pembongkaran aib masa lalu. Heii, semua orang berhak berubah, bukan?:) Ini perkara INTEGRITAS dan saya TAHU PASTI akan merapat ke KUBU mana.

Siapapun pilihan anda, olahlah terlebih dulu data mentahnya ya. Siapapun yang menang, toh kita akan angkat topi juga untuk mereka. Mau tak mau. Suka tak suka. Jadi, stop lah mengirimi saya broadcast, gambar-gambar, dan lain lain yang menjelekkan jagoan saya sepanjang waktu. Toh saya hanya memajang foto beliau  di pp BBM pribadi saya, mengapa pula itu dijadikan dasar menyerang saya? Saya tak melakukan apa-apa bentuk provokasi, bukan? Marilah kita berdamai demi INDONESIA SATU :)

Kutatap Tulus Cinta Di Matanya (Disarikan oleh dr. Piprim B.Yanuarso)


Status Update
By Piprim Basarah Yanuarso


"Kutatap tulus cinta di matanya"
By: Prayudhi Azwar

Reaksi jenderal yang dahulu kusangka agresif dan kejam, sungguh di luar dugaan. Tak sekalipun dia menyerang memojokkan lawannya. Tak pula dia menyindir atau menatap sinis lawan debatnya. Bahkan tak segan dia memuji, menghormati pendapat rivalnya.

Saat dipojokkan kembali dengan isu HAM yang menderanya dan membunuh karirnya 16 tahun lalu, dia bisa saja memojokkan kembali dengan menjawab: "tanya kepada bu Megawati, mantan presiden yang pernah mengangkat saya sebagai Cawapres 2009"? Atau bertanya kembali, "kenapa Pak JK sendiri tidak adili saya waktu Bapak menjabat Wakil Presiden?"

Tapi tidak. Memojokkan bukan sifatnya, tidak ada dalam jernih pikirannya. Mungkin karena begitulah sifat ksatria. Sifat seorang negarawan. Maka dia hanya berkata: "tanyalah kepada atasan saya".
Atasan yang kita semua tahu persis berada justru di kubu Pak JK sendiri.
Usai debat, beliau bukan hanya hangat menyambut memeluk rivalnya. Juga saat ditanya wartawan, dengan ringan dia menjawab: "saya harus mau diserang".

Dia juga tidak keberatan pesaingnya berbangga hati menunjukkan prestasi terpilih menjadi kepala daerah. Padahal kita semua tahu bahwa dialah orang yang pertama mengusungnya.

Sejujurnya, tak banyak saya melihat pribadi dengan karakter yang seikhlas dirinya, saat ini. Bathin saya seolah menangkap kilau kepribadiannya. Kepribadian yang akan mampu menyatukan elemen-elemen yang terserak di negeri ini.

Sejarah telah mencatat pengorbanannya untuk bangsanya. Mempertahankan keutuhan NKRI dengan darah dan nyawanya. Dan itu terjadi berulang kali. Di pertempuran di Timor-Timur, dalam misi impossible pembebasan sandera sipil di Mapenduma, penangkapan 2 agen berkulit putih tahun 1984, yang menyulut disintegrasi Papua, dan dalam berbagai operasi tempur berat lainnya. Dia tak tonjolkan semua bakti yang telah ditorehkan untuk ibu pertiwi yang dicintainya, dengan sepenuh jiwa raganya.

Karena itulah, keteguhan kata-katanya memberi makna yang dalam bagi yang memahami bersih nuraninya. "Saya sekian tahun adalah abdi negara, yang membela HAM. Mencegah kelompok radikal mengancam hidup orang-orang yang tidak bersalah,"

Lalu dimana kita? Dimana nurani?
Kenapa kita rakyat sipil, yang katanya lebih beradab, dan yang telah dijaga hak hidup dan keleluasaan menjalankan berbagai jenis usaha, masih tetap terdorong memojokkannya. Tidak cukupkah kita menyaksikan betapa para jenderal-jenderal senior yang semestinya berjiwa korsa itu terus menuduhnya sebagai psikopat, gila, pelaku bom natal dan membebankan dosa satu institusi TNI tahun 1998 dipundaknya, seorang sendiri.

Tidakkah hati kita tergerak, untuk sekedar menghargai lelaki yang teguh ini? Mudah-mudahan nurani kita pada akhirnya bisa memaknai semua ini.

Perth, 10 Juni 2014
Ditulis dikeheningan winter,
1:27 AM dinihari

Jumat, 06 Juni 2014

Satu Momen Yang Akan Kurindu



Pukul 16.30 – 17.30
Itulah kisaran jam dimana aku tiba di rumah setiap harinya.
Enak?
Tergantung dibandingkan dengan siapa. Perlu diketahui, Sabtu pun aku masuk bekerja.

Tap, tap, tap.
Langkahku tegap mantap. Herannya lebih tegap dari langkahku berangkat.
Tak sampai beberapa menit lagi aku akan menemui bidadari kecilku.

Di belokan arah rumah kami, sekitar 3-4 meter jauhnya dari rumahku, nahhh itu dia! Bocah perempuan usia 20 bulan berkuncir dua sedang duduk jongkok menyaruk-nyaruk tanah. 
(Aku tidak mempermasalahkan ia bermain kotor, pasti akan selalu kubersihkan lagi nanti).

Pengasuh memanggil bocah itu dan menunjuk ke arahku.

Si bocah menanggapi dan melihat arah tunjuk si pengasuh.

Ia pun sumringah, segera berdiri, dan berlarian mengejarku sambil tertawa-tawa dan berkicau heboh!
Momen yang selalu kutunggu setiap sore.
Momen penghilang lelahku.

Larinya sungguh membuatku kuatir.
Dengan badan kecil mungil, ia berlari layaknya pelari maraton sejati.
Aku balas mengejarnya, tentu.
Dengan ekspresi yang kubuat sekonyol mungkin hingga ia pun terpingkal.

Dan hap!
Si bocah memeluk erat kakiku dan aku pun duduk mendekapnya, memberikan ciuman mesra, “Assalamualaikum, anakku sayaaang”.
Ia pun menggandengku ke dalam rumah, biasalah, meminta 'jatah'
Ia baru 20 bulan jadi memang belum kusapih :)

Inilah satu-satunya momen yang akan kurindu nanti.

Bila aku telah resmi menjadi ibu rumah tangga yang pebisnis.
(Hey, IRT pun bisa menghasilkan taukk. Stop paradigma yang bilang IRT tak bisa apa-apa itu!)

Sekarang ku nikmati sajalah dulu momen ini sepuas-puasnya.

Aku yakin momen ini akan datang lagi, nanti

Nanti di saat ia sekolah, kuantar jemput tiap hari.
Nanti saat ia merantau melanjutkan studi, saat ia pulang liburan kuliah.
Nanti saat ia telah bersuami, ia pun aku yakin akan berlarian mengejar, memeluk dan menciumiku.
Bersama bocah perempuan berkuncir dua yang lucu.
Cucuku...
Yang persis sama seperti bocah yang sedang terlelap pulas di hadapanku saat ini ….